Memanah Matahari Pukul Tiga Tengah Hari

Foto-Foto: Raihul Fadjri

 

RENDHENG | Karya: Dunadi, Hedi Hariyanto, Komroden Haro, Win Dwi Laksono, Wahyu Santosa, Budi Ubrux, Putu Sutawijaya, Laksmi Shitaresmi, Soetopo, Nyoman Ateng Adiana, Djoko Pekik, Edi Priyanto, Nasirun | Kurator: Bambang Herras, Samuel Indratma | 29 Desember 2017-29 Januari 2018 | Pelataran Djoko Pekik, Sambungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul | YOGYAKARTA

Pameran patung luar ruang di tengah rimbunan pepohonan yang menjulang.

PATUNG figur lelaki itu memamerkan kekuatan fisiknya. Tubuhnya ramping tapi berhiaskan lekukan otot bak pria yang tiap hari melatih tubuh di gimnasium. Tubuh bagian atasnya membentuk segitiga dengan lapisan otot yang menonjol. Kaki kiri dalam pososi horizontal seakan didorong sedemikian rupa untuk menahan berat tubuhnya yang condong ke belakang dengan otot dan urat yang tampak tegang. Adapun kaki kanannya dalam posisi menekuk menahan otot-otot tubuh itu.

Posisi tubuh itu mengesankan orang yang sedang mengerahkan segenap tenaganya, dengan tangan kiri menyorong ke depan dengan sekuat tenaga menahan busur panah, dan tarikan tangan kanan ke belakang siap melepas anak panah imajinatif ke arah matahari pada pukul tiga siang. “Saya seolah ingin menggeremus matahari,” ujar Djoko Pekik, pelukis yang membuat patung bertajuk Memanah Matahari itu, Selasa 16 Januari 2018.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

 

Djoko Pekik, 82 tahun, adalah salah satu dari 13 seniman yang memamerkan karyanya pada pameran patung luar ruang bertajuk Rendheng (musim hujan) di pelataran rumahnya. Pekik, panggilan akrabnya, dikenal sebagai pelukis, tapi karya patung yang pertama kali dia buat itu adalah bagian penting dari sejarah hidupnya sebagai seniman Kiri.

Saat itu Pekik bergabung dengan kelompok seniman Sanggar Bumi Tarung. Bumi Tarung adalah akronim dari frasa buruh dan petani. Setelah peristiwa pembunuhan jendral Angkatan Darat pada 30 September 1965 bersama orang-orang Kiri lainnya dia digelandang ke dalam tahanan di Beteng Vredeburg, Yogyakarta, pada 8 November 1965. Di dalam tahanan itu Pekik terus didera ketakutan akan dibawa keluar: dibon. Sebab tahanan yang dibon pada malam hari dibawa degan truk ada yang kembali ke tahanan dengan tubuh kerempeng tapi lebam di sekujur tubuhnya karena disiksa saat diinterogasi, tapi banyak pula yang tak kembali lagi. “Kata tentara saat itu mereka (tahanan) mati diceburkan ke luweng dengan mata tertutup,” ujar Pekik.

Hampir setahun dia berada dalam ketakutan. “Kepanggil ora, kepanggil ora,” katanya. Suatu siang pada Desember 1966 tiba giliran Pekik dibon. Pekik bersama pelukis Lian Sahar dibawa tentara, tapi bukan ke ruang interogasi, bukan juga ke luweng dengan mata tertutup. Keduanya malah dibawa ke satu rumah berasitektur kolonial di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Rumah itu sebelumnya merupakan kantor Dinas Pendidikan urusan pemberantasan buta huruf yang semua pegawainya anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah heboh 1965, penguasa militer Yogyakarta yang waktu itu ditangan Polisi Militer setempat menyita rumah itu.

Di rumah itulah Djoko Pekik dan Lian Sahar diinapkan. Kepala Polisi Militer Yogyakarta kala itu, Mus Subagiyo, memerintahkan Pekik dan Lian melukis. Perintah itu sebagai permintaan Presiden Sukarno saat berkunjung ke Magelang, Jawa Tengah. Sukarno berpesan agar ‘senimannya’ di Yogyakarta jangan dibunuh dan jangan ditahan diluar Yogyakarta. “Alasannya, membuat satu seniman lebih sulit daripada membuat 10 insinyur,” ujar Pekik menirukan ucapan Sukarno seperti yang dituturkan Mus Subagiyo.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

 

Keduanya sangat senang mendapat perlakukan istimewa, meski dijaga empat orang polisi militer yang masing-masing menenteng senjata laras panjang. “Senangnya bukan main seperti orang mabuk,” katanya. Pekik pun merasa dirinya berharga. Selama dalam tahanan yang terbayang menyesakkan dada dan pikirannya saat itu adalah keinginan memeluk mata hari setelah setahun di dalam tahanan tidak melihat matahari. Gagasan seninya pun berproses. “Saya panah matahari hingga jatuh, agar bisa saya kremus,” kata dia.

Lian Sahar pun melukis. Tapi Pekik tidak. “Saya tidak bisa melukiskan ide itu,” katanya. Bagi Pekik, keinginannya meremas matahari itu tidak bisa dituangkan lewat lukisan. Karena arah panah di atas kanvas tidak bisa di arahkan ke matahari. Sebaliknya dengan patung di luar ruang Pekik bisa mengarahkan panah langsung ke matahari. Dia memilih arah matahari pada posisi pukul tiga menjelang sore, saat matahari sedang terik di bagian barat.

Karena bukan seniman patung, saat mewujudkan patung itu Pekik hanya mengandalkan ingatannya saat kuliah di Akademi Seni Rupa (Asri) Yogyakarta, ketika melihat mahasiswa jurusan seni patung praktek membuat patung dengan lempung. Celakanya, lempung yang tersedia  ternyata tak cukup membuat seluruh patung yang berukuran 250 x 300 x 100 sentimeter itu. “Hanya cukup untuk membuat separo badan,” katanya.

Apa boleh buat, setelah kaki hingga pinggang selesai, kemudian dibuatkan cetakannya memakai bahan parapin dicampur bubuk dempul yang direbus menggunakan topi baja tentara. Usai cetakan tubuh bagian bawah jadi, lempung yang sama dibuat bentuk tubuh dari pinggang hingga lengan. Sedang bagian kepala proses yang paling akhir. Patung pun selesai dalam waktu empat bulan, dan kini masih menghiasi halaman depan rumah tersebut. Djoko Pekik bebas menikmati cahaya matahari pada 1972.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Ketika rezim Suharto tumbang pada 1998, Djoko Pekik sudah menjadi seniman makmur dengan harga karya lukisnya Berburu Celeng Rp 1 miliar. Rumah dengan patung Memanah Matahari itu pernah ditawarkan kepadanya untuk dibeli seharga Rp 1,2 miliar. Tapi dia menolak. “Uang sebanyak itu mending untuk hidup,” kata ayah delapan anak ini. Rumah  itu akhirnya dibeli pengusaha toko retail yang juga kolektor seni rupa, Siswanto.

Joko Pekik memang bukan jenis pelukis yang ‘mabuk’ akibat bom seni lukis Indonesia yang membuat banyak pelukis muda karya raya. Dia tak banyak membuat karya lukis. Dengan corak lukisannya punya karakter kuat, hukum pasar pun bermain. Karyanya yang tak banyak diburu kolektor sehingga harganya melesat naik.

Pada pameran patung ini selain muncul karya patungnya yang dicuplik dari lukisan Berburu Celeng itu, Pekik juga membuat karya patung berjudul Berburu Pekik. Berbeda dengan narasi Berburu Celeng sebagai metafora perburuan terhadap koruptor, karya patung Berburu Pekik menggambarkan posisi Pekik dalam pasar seni rupa Indonesia. Karya lukisnya menjadi buruan kolektor.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

 

Pengunjung bisa dengan nyaman menikmati belasan karya patung dalam berbagai corak di bawah rindangnya berbagai pohon di lahan kediaman Djoko Pekik. Tapi pameran ini akan lebih menarik jika belasan karya patung tidak diletakkan di satu tempat yang sama, melainkan ditempatkan terpisah sesuai dengan karakter karyanya. “Penempatan karya sekadar memindahkan karya patung dari studio patung ke ruang terbuka,” ujar Kris Budiman, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang acap didapuk menjadi kurator pameran seni rupa pada saat pembukaan pameran ini, Jumat 29 Desember 2017.

Lahan itu mestinya bisa dimanfaatkan lebih maksimal untuk penempatan karya patung karena punya struktur yang menarik. Membentang dari tepi sungai hingga bidang lahan seluas 3,5 hektar dengan topografi bergelombang berhiaskan berbagai jenis pohon menjulang.

Tapi, karya patung pelukis Putu Sutawijawa (Keterikatan, 2017) yang berukuran kecil, misalnya, tenggelam di bawah rimbunan pepohonan yang menjulang. Karya patung pelukis Laksmi Shitarisme (My Vessel in Action, 2010) dalam berbentuk perahu berkaki—juga dalam ukuran kecil—akan lebih menarik di letakkan di tepi sungai.

Toh kurator pameran ini punya pandangan lain. “Kami mencoba melokalisir (ruang pameran) di satu zona agar penonton dimudahkan mengakses karya secara keseluruhan,” ujar Samuel Indratma yang juga dikenal sebagai perupa. Selain itu, katanya, pendistribusian tata lampu lebih mudah.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *