BUTET KARTAREDJASA: Orgasmenya Gak Cuma Sekali

Sardono W. Kusumo di depan: Mas Gondrong | 2017 | 120 x 200 cm | Keramik, plat baja | Foto-foto: Dok. Butet Kartaredjasa

 

GORO GORO Bhinneka Keramik | Butet Kartaredjasa | Kurator: Adi Wicaksono | 30 November-12 Desember 2017 | Galeri Nasional Indonesia Jalan Merdeka Timur 14 | JAKARTA

Penonton pameran keramik Butet Kartaredjasa dari pesohor, menteri kabinet, hingga perempuan yang mengenakan burqa.

‘PENTAS’ bertajuk Goro Goro itu pun usai. Heboh di media sosial yang sudah berlangsung sepekan sebelum pembukaan pada 30 November 2017 saat ditutup pada 12 Desember 2017 pun senyap. Tapi hanya sebentar. Sepekan setelah penutupan pameran seni rupa dengan medium keramik itu, heboh lain pun muncul. Butet Kartaredjasa mengumumkan lewat statusnya di FB, Selasa 19 Desember 2017 tentang buku baru: Sentilan Bung Sentil Butet K. Buku yang berisi kumpulan kartun karikatur goresan Widiyatno dengan imbuhan teks oleh Butet Kartaredjasa.

Toh kehadiran buku ini tak seheboh pameran Goro Goro. Selain berlangsung di Galeri Nasional, tempat pameran seni rupa berkelas nasional berlangsung, pameran ini juga dibuka oleh Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dengan pembawa acara artis Happy Salma. Di jalan masuk ke Galeri Nasional jejeran spanduk vertikal berjejer bak keramaian satu festival.

Dengan ketokohan Butet Kartaredjasa, tak heran hadir banyak pesohor yang datang pada saat acara pembukaan pameran maupun setelahnya termasuk dua dokter yang juga dikenal sebagai kolektor kondang Oei Hong Djien dan Melani Setiawan. “Butet Kartaredjasa menggemparkan ibukota. Akhirnya cita-cita pameran tunggalnya terlaksana, langsung di Galeri Nasional Indonesia,” tulis Pak Dokter, panggilan akrab Oei Hong Djien, pada statusnya di FB 13 November 2017. “Pengunjungnya mbludak”.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Setelah pembukaan pameran muncul koreografer kondang Sardono W. Kusumo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Hingga penutupan pameran pada 12 Desember 2017 sekitar 3000 orang menyambangi ruang pamer Galeri Nasional untuk menyaksikan karya Butet. Yang menarik, diantara pengunjung itu ada sejumlah perempuan mengenakan busana burqa yang menutup sekujur tubuh dari kepala hingga kaki dengan hanya menyisakan bagian mata, di ruang pameran yang juga menampilkan figur Yesus. “Ayu kabeh. Penonton pameranku cantik-cantik,” tulis Butet pada statusnya di FB, 8 Desember 2017.

Pada pameran ini Butet tak hanya melukis di atas keramik baik pada permukaan datar maupun pada keramik yang sudah berbentuk, tapi juga membuat bentuk dengan menyusun pecahan-pecahan keramik. “Karyanya mengejutkan semua, dalam kuantitas dan kualitas. Tidak seperti lazimnya,  karena keramik yang dia garap,” ujar Oei Hong Djien.

Butet yang mengambil jurusan seni lukis di Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI Yogyakarta ini menggarap medium keramik karena belum banyak yang mengeksplorasi. Selain itu, katanya, keistimewaan media keramik itu bisa menemukan kejutan artistik berkali-kali. “Orgasmenya nggak cuma sekali. Setiap tahap penggarapan ada kepuasan yang didapat,” katanya.

Berikut penjelasan Butet ihwal eksplorasinya terhadap medium keramik lewat percakapan WhatsApp, Selasa 19 Desember 2017:

Kenapa mulai menggarap karya seni rupa setelah sekian lama ditinggalkan? Bosan berakting nganggo cangkem, biar variaitf berekspresi, golek tambahan penghasilan, popularitas mulai menurun?

Butet: Sebenarnya ini meneruskan eksplorasi yang dulu. Tahun 1980-an saya lakukan ketika masih mahasiswa STSRI ASRI. Dulu menggunakan keramik lantai dari pabrik. Melukis di atas permukaan licin, tanpa pembakaran sehingga cat cuma menempel saja, tidak terserap. Terlalu riskan, gampang tergores.

Yang sekarang memperlakukan keramik mentah sebagai pengganti kanvas, dan melalui proses pembakaran tinggi sampe 1.400 derajat. Warna masuk ke dalam keramik menjadi abadi.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Kok memilih media keramik? Mergo wedi bersaing dengan banyak pelukis, lebih mudah menarik perhatian?

Butet: Sejak dulu saya memang tidak ingin terperangkap dalam kotak-kotak seni. Bagi saya cabang-cabang seni sesuatu yang inheren dalam dunia kreatif. Tradisi akademik dan para teoritisi saja yang memisahkan, mengkotak-kotakkan, sehingga kalau hari ini saya melukis dianggap ‘menyeberang’.

Kreativitas seni itu tidak memiliki batas teritori. Saya bisa mengartikulasikan pikiran dan kegelisahan kreatif melalui apa saja: tulisan, panggung pertunjukan, maupun seni visual.

Kesadaran terhadap basis kreativitas seperti, nggak ada hubungannya dengan popularitas, apalagi penghasilan ekonomi. Popularitas dan economic effects bagi saya hanyalah akibat dari kerja kreatif yang dilaksanakan secara serius dan sungguh-sungguh. Bener-bener sebagai dampak, bukan tujuan.

Apa keistimewaan medium keramik bagi sampean?

Butet: Media keramik sesuatu yang unik, dan masih menyisakan ruang tantangan yang sangat luas. Di situ masih sedikit yang mau menjamah. Mungkin karena terlalu ribet prosesnya. Bagiku, justru di situlah tantangannya. Meski begitu, bukannya aku anti media konvensional: kanvas dan kertas. Itu tetap kulakukan sebagai reherseal, media untuk melatih keluwesan dan ketrampilan. Lha jarene, seniman ki kudu inovatif. Kalau ndak mau bertarung dan menguji media yang baru, ntar stagnan dong he…he…he….

Keistimewaan media keramik itu bisa menemukan surprise artistik berkali-kali. Orgasmenya nggak cuma sekali. Setiap tahap penggarapa ada kepuasan yang didapat.

Pertama, sebelum keramik dibakar. Spekulasi kedua, melihat after pembakaran dan di-glazur. Ketiga, bagaimana mempertemukan hasil lukisan keramik dan media lain, misalnya dengan metal, kayu acrylic dan lainnya.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

 

Selain melukis di atas keramik, sampean juga membuat bentuk dari susunan potongan (pecahan) keramik dalam ukuran kecil. Kenapa? Kenapa tidak cuma melukis di atas keramik saja?

Butet: Kepingan-kepingan keramik itu sengaja dipersiapkan sebagai elemen improvisasi dalam penciptaan. Sebagai support pemancing kreativitas. Sebab, bagiku, gagasan itu sesuatu yang hidup dan tumbuh. Ia buakn sesuatu yang final. Persis orang main teater atau main monolog. Apa yang udah dilatihkan bisa mendadak berubah dan berkembang ke sana ke mari di tengah jalan. Nah, kepingan warna warni beraneka bentuk bisa dihadirkan untuk memperkuat gagasan yang ingin kusampaikan.

Kok jawabanmu serius banget? Gak menghibur!

Butet: Kuwi memang kelemahan teks, nggak bisa menghadirkan diksi pengucapan yang sesungguhnya penuh canda. Sastra ki ncen uasuwoook.

Masih ingin pameran lagi, bersama atau tunggal? Dengan medium keramik atau berani lukisan saja?

Butet: Tentu masih ingin pameran lagi, dan masih mengeksplorasi media keramik yang belum selesai. Mungkin tiga atau empat tahun lagi pameran tunggal seperti yang kemarin. Kalau ada yang ngajak pameran bersama ya oke-oke aja. Moga-moga masih punya stamina untuk melakukan eksplorasi.

Hasilnya pameran kemarin, berapa karya yang pindah tangan ke kolektor?

Butet: Rejeki yang belum selesai pantang dikabarkan…. hua ha ha.

Yang pasti: Iki ncen rejekinya anak sholeh. Alhamdulillah ora tenggelam, ora nombok. Malah banyak art dealer luar Indonesia yang pengin membaya karya-karyaku ke beberapa negara. Uasuwoook, …. mungkin aku emang sholeh tenanan.

Meneruskan pertanyaan kolektor pak Oei Hong Djien lewat statusnya di FB pada 30 November 2017: Ia (Butet) manusia super sibuk, maka orang menggodanya, kapan mengerjakannya (karya keramik)? Jawabanmu opo, Tet?

Butet: Lha semua itu kukerjakan di Karawachi sehabis shooting di Jakarta selama tiga tahun. Pokoknya asal aku di Jakarta, langsung ke Karawachi memproduktifkan waktu. Rame ing gawe, sepi ing studio. Bekerja dalam sunyi kebalikannya bekerja di panggung seni pertunjukan yang heboh. Ini kan cuma soal manajemen waktu wae.

Tetap kurang menghibur jawabannya. Masih pernyataan pak Oei Hong Djien: (Butet) seniman cerdas, seleb yang luar biasa. Tanggapan sampean?

Butet: Jawabannya: Prek!!!

Ini baru menghibur! 

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *