YUSTONI VOLUNTEERO: Dulu Hitam-Putih, Kini Sarat Hiasan Warna

Phonix Bournett | 130×180 cm | Acrylic on Canvas | 2017 | Foto-Foto: CG Artspace

 

YUSTONI VOLUNTEERO | Setelah Dekora-Magis | Kurator: Sudjud Dartanto| 8-18 Desember 2017 | CG Art Space, Pondok Indah | JAKARTA

Seorang seniman aktivis bergaya punk kini menjadi hippy yang melihat dunia lebih berwarna.

YUSTONI VOLUNTEERO kini menjadi perupa penghias? Lihatlah pamerannya di galeri di CG Art Space, Jakarta. Ada 20-an karya lukis dengan media di atas kanvas memakai cat akrilik. Berbagai citraan  berulang berupa ragam hias yang diambil dari bentuk tumbuhan dalam warna cerah berlapis-lapis menghiasi bidang latar yang menjadi ruang bagi subject matter pada karya lukisnya.

Ada figur hanya mengenakan singlet bak kuli bangunan menyorong gerobak dalam garis-garis sederhana dalam warna dominan hijau muda (Sign of Love, 2017). Atau potret sosok bertanduk dengan juntaian hiasan bentuk tumbuhan dalam warna dominan merah muda (Guard Forest, 2017).

Bentuk-bentuk garis yang menghias semacam itulah kini memenuhi karya dua dimensinya. Tangannya dengan lentur mengelola lekukan bentuk-bentuk ragam hias, dengan warna-warna yang menyiratkan kenikmatan hidup. Tema yang menjadi sorotannya pun lebih fokus pada lingkungan, berupa flora dan fauna (Little Girl and The Lover, dan The Kiss, 2017), laut (Say Hallo to Banda Ocean, 2017).

Yang menarik, pada karya lukis Toni, panggilan akrab Yustoni, itu nyaris tak ada lagi nada kemarahan atau hardikan seperti yang ada pada karya dia sebelumnya lewat garis-garis tegas dan lurus dengan simbol yang mengisyaratkan penindasan terhadap kelompok masyarakat paling bawah. “Karya Toni sesungguhnya tengah berada pada fase perubahan orientasi artistik yang tidak lagi menggambarkan realisme progresif,” tulis Sudjud Dartanto, dalam konsep kuratorialnya.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Toh, menurut Sudjud, karya Toni tak sekadar menampilkan kecenderungan menghias semata. “Karya Toni bagi saya dapat dibaca sebagai penegasan posisi estetisnya atas aliran dekora-magis, sebuah kecenderungan mendekor bidang dengan suatu makna spiritual tertentu,” ujarnya. Bagi dia, karya Toni tetap menghadirkan subyek yang aktif, tapi kini lebih personal.

Perjalanan berkesenian Toni bersama sejumlah seniman muda yang diberi label progresif adalah salah satu produk kebudayaan yang tak diinginkan oleh rezim Orde Baru di bawah Jendral Suharto. Mereka mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat Taring Padi  lewat manifesto Lima Iblis Budaya di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pada 21 Desember 1998.

Salah satu dari lima iblis budaya itu adalah lembaga seni maupun budaya yang menitikberatkan seni untuk seni, individual, oportunis dan mensosialisasikan doktrin sesat untuk mempertahankan status quo (taringpadi.com). Mereka menuding budaya Indonesia hanya dijual eksotismenya untuk kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Bagi aktivis Taring Padi hanya ada: kawan dan lawan.

Sejak manifesto itu bermunculan karya yang mereka sebut karya kolektif di ruang publik yang kebanyakan dengan teknik cetak cukil kayu dengan warna monokrom di atas media kertas. Mereka bergerak di akar rumput bersama petani dan kelompok marginal perkotaan lain lewat aksi kesenian.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Kiprah Toni lebih banyak dalam kegiatan komunal tinimbang pribadi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ketika dia membuat karya individual pun yang memang diberi kebebasan oleh Taring Padi, tak lepas dari semangat perlawanan itu.

Karya pribadinya menggambarkan dunia yang hitam-putih, tak cuma  memakai materi sederhana berupa charcoal di atas media kertas yang memang menghasilkan citraan hitam-putih, tapi juga cara pandang melihat masalah yang diadvokasi kelompoknya lewat kesenian. Sebagai anak muda, dia juga memilih gaya hidup punk yang memang merupakan kultur perlawanan terhadap budaya arus utama. Rajah tato pun menghias tubuhnya.

Tapi, dunia pun berputar. Toni yang kini berusia 47 tahun juga bagian dari sesuatu yang mesti berubah. Garis tegas itu pun akhirnya dia lewati. Karyanya mulai penuh warna dan berlekak-lekuk, meski masih tetap mengusung misi. “Bagi aku keberpihakan harus bisa dikatakan dengan bahasa lain,” katanya lewat percakapan WhatsApp, Jumat 15 Desember 2017.

Menurut Toni, tiap seniman yang ‘hidup’ harus selalu gelisah dan dinamis untuk mempertanyakan bahasa ungkapnya. “Aku tidak betul-betul meninggalkan (bahasa ungkapnya yang lama), tapi mencoba membuat proses dari sisi lain,” kata dia.

Galeri:

Sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Bagi Toni, citraan keburaman pada karyanya yang dulu tak menghasilkan  empati dan simpati orang lain. “Tapi malah kenyinyiran yang kudapat,” ujarnya. Justru dengan keceriaan, optimisme dan berfikir positif dia berharap bisa lebih membuka ruang imajinasi dan berfikir bebas tanpa menggurui. Dengan demikian, kata dia, penikmat bisa mendapat pengalaman yang lebih positif sehingga akan muncul pemikiran, misalnya: Enak ya hidup berdampingan dengan pohon, bunga, kupu-kupu, binatang ini dan itu”.

Selanjutnya, menurut dia, orangpun mulai punya daya spiritual untuk mewujudkan mimpi, imaji seperti itu. “Paling tidak aku sudah menularkan energi kegembiraan, positive thingking, dan good energy,” ujarnya.

Seusai pameran ini ditutup pada Senin 18 Desember 2017, karya lukis Toni segera diusung untuk dipamerkan di Plaza Indonesia, Jakarta, tempat kelas menengah atas Jakarta bersuka-ria. Kini Toni tak lagi menempatkan dirinya sebagai seorang punk. “Mungkin aku wis dadi hippy tinimbang punk yang teriak-teriak melulu”.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *