BIENNALE JOGJA XIV: Rebutan Lensa Kamera Pengunjung

Antrian masuk ruang pameran Biennale Jogja XIV | Foto: Dok. Biennale Jogja XIV

 

STAGE OF HOPELESSNESS | EQUATOR #4 | Indonesia Meet Brazil | Kurator: Pius Sigit Kuncoro | Karya 27 Perupa Indonesia, 12 Perupa Brazil | 2 November-10 Desember 2017 | Jogja National Museum, Jalan Amri Yahya 1, Gampingan | YOGYAKARTA.

Karya seni rupa konvensional sepi perhatian pengunjung.

PENGUNJUNG pameran Biennale Jogja XIV bersileweran di lorong lantai satu bekas kampus Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSRI) Asri, Yogyakarta, Kamis siang 7 Desember 2017. Sebagian berkalungkan kamera digital, sebagian lain menggenggam erat telpon seluler. Mereka keluar masuk ruang pertama yang berisi karya Aditya Novali bertajuk When I Google Ahok. Pengunjung, lelaki-perempuan, berjilbab atau tanpa jilbab, berpose dengan berbagai gaya dengan senyum mengembang di depan enam panel LED berisi citraan susunan garis yang membentuk bidang persegi dalam berbagai warna: Jepret. Tak ada secuilpun potret bekas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, di ruangan itu.

Ruang di depan karya Aditya itu hal yang sama berlangsung meski ruang ini nyaris gelap gulita. Ruangan itu mirip toko televisi dengan 27 layar LED dalam berbagai ukuran di lantai maupun di dinding. Hanya ada cahaya yang berpendar dari 27 layar monitor itu dan sesekali cahaya berkedip  yang memunculkan citraan abstrak berupa komposisi garis-garis lurus maupun geometris karya Arin Dwi Hartanto Suryo. Toh ditengah cahaya yang minim pada karya bertajuk Interference itu, kamera digital dan kamera di telpon seluler bekerja mengabadikan berbagai gaya pengunjung.

Inilah heboh yang ditimbulkan pameran dua tahunan yang kini menggandeng perupa dari Brazil lewat label Equator #4, sejak pameran ini dibuka pada 2 November 2017. Jumlah kunjungan penonton melejit menjelang akhir pekan. “Pada Jumat 8 Desember 2017 dari pagi hingga malam tercatat 2413 pengunjung,” ujar Nunuk Ambarwati, Humas Biennale Jogja XIV. Dua hari sebelum penutupan pameran ini, Jumat 8 Desember 2017, tercatat 39.452 ribu pengunjung.

Galeri:

Klik foto untuk ukuran lebih besar

 

Seorang pengguna FB, Jamaludin Latif, mengunggah empat foto di statusnya yang menunjukkan antrian pengunjung di pintu masuk mengular hingga tempat parkir di timur gedung pada Sabtu malam, 9 Desember 2017. Dia menuliskan komentar: “Fenomena mengapresiasi seni rupa kekinian: ANTRI SELFI! Bravo Biennale…..”

Pameran ini mengusung tema Stage of Hope Lessness yang diplesetkan menjadi Age of Hope. “Penulisan tema ini adalah bentuk upaya untuk mengubah harapan yang kini semakin jauh dari kenyataan,” tulis Pius Sigit Kuncoro dalam konsep kuratorialnya.

Pius menyodorkan tujuh konsep penciptaan karya yang dia sebut dengan istilah repertoar untuk pameran ini. Tapi, katanya, dalam proses kreatif yang berjalan beberapa perupa mengalami kebuntuan yang tak diduga. “Perupa yang awalnya hendak mengeksplorasi repertoar yang ketujuh, pada akhirnya harus melompat ke repertoar keempat setelah berjumpa dengan kenyataan lain di luar nalar yang diyakni sebelumnya,” ujar Pius.

Galeri:

Klik foto untuk ukuran lebih besar

 

Kebanyakan karya pada pameran ini merupakan karya yang disebut seni rupa media baru yang sarat dengan teknologi dengan memasukkan citraan digital lewat elemen cahaya dan bunyi. Karya-karya semacam inilah yang menjadi serbuan pengunjung pameran sebagai arena berfoto. Bahkan di ruang gelap pun dengan juntaian mikrofon penonton antri berpose di bagian yang diterangi lampu sorot karya lima perupa dari kelompok Sangkakala.

Di lantai dua hiruk suara musik mengiringi satu kenderaan semacam lori yang digenjot dengan pedal oleh seorang pemuda yang berhadapan dengan seorang gadis sembari tersenyum melewati rel dari sisi timur menuju ruang di sisi barat yang berisi kasur dan bantal dalam warna merah muda (pink). Mereka bak pasangan pengantin yang bakal menikmati malam pertama di ranjang. Pengunjung pun antri untuk bergantian berpose di atas karya Mulyana (Kamu Pecundang Kalau Gak Bisa Tidur) ini.

Karya kelompok Indiegurillas (Santi Ariestyowanti, Dyatmiko Bawono) bertajuk X WVLV yang sarat teknologi pula di lantai ketiga yang menjadi kerumunan pengunjung. Mereka berpose di depan sorotan rekaman visual berupa berbagai struktur geometris dalam berbagai warna tanpa peduli  dengan suara-suara yang menjadi bagian karya itu. Karya-karya gemerlap dengan cahaya warna-warni yang mengingatkan orang pada media iklan luar ruang—neon box—itu menjadi karya hight profile pada pameran ini.

Galeri:

Klik foto untuk ukuran lebih besar

 

Pengunjung lebih peduli pada hasil potretan yang selalu mereka cek sesuai bergaya dijepret kamera. Jika tak memuaskan mereka pun mengulangi bergaya di depan kamera. Pola polah penonton yang selalu berulang itu nyaris bak aksi performance art.

Hasilnya, karya seni rupa konvensional misalnya karya patung (Roby Dwi Antono, Requiem, 2017) yang sangat menarik sepi dari perhatian pengunjung. Begitu pula lukisan karya Yunizar (Matahari Kuning), bahkan karya seni instalasi, dan karya video maupun film dokumenter yang dibawa perupa asal Brazil tercoret dari perhatian pengunjung. Teknologi membuat karya seni rupa menjadi media untuk memenuhi kebutuhan ekspose diri pengunjung.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *