GALERI BENDA: Repot Kelola Galeri, Bikin Pameran di Hotel

Apri Susanto | The Flow of Life | Clay | 2017 | Foto-foto: RFX

ROOTED IN ART | Apri Susanto | Dedy Shofianto | Dery Pratama | Ivan Bestari | Ludira Yudha | Benda Art Management, Gaia Cosmo Hotel | 18 November 2017-18 November 1019 | Jalan Ipda Tut Harsono No. 16, Timoho | YOGYAKARTA

 

Pameran dengan konsep commission works. Karya dipamerkan selama dua tahun.

Puluhan tamu meriung di sekitar kolam renang kecil di Hotel Gaia Cosmo di kawasan Timoho, Yogyakarta, Sabtu malam 28 Oktober 2017. Saat itu berlangsung acara pembukaan pameran seni rupa yang disebut penyelenggara pameran Benda Art Managament sebagai VIP Cocktail Party. Ada yang mendengarkan pidato Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang mengenakan pakaian kasual didampingi pemilik Benda, Satya Brahmantya.

Ada pula yang asik melihat karya berupa susunan obyek warna-warni berbentuk geometris di dinding kolam renang sembari menikmati minuman dan makanan kecil yang disuguhkan pelayan hotel. Mereka, tamu itu, lebih terlihat sebagai kolektor seni rupa tinimbang penikmat seni biasa,  apalagi seniman.

Ketika berlangsung prosesi pembukaan dengan pemukulan gong, justru dilakukan oleh General Manager Gaia Cosmo Hotel, Ivan Andries. Peran ini bisa dimaknai bahwa hotel ini punya posisi yang istimewa dalam kegiatan pameran Benda Art Managament yang sebelumnya menyelenggarakan pameran di galeri milik sendiri dengan nama Galeri Benda di kawasan Kemetiran Kidul Yogyakarta sekaligus rumah pemiliknya.

Galeri:

Tekan/ sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Lima karya perupa itu tidak diletakkan di dalam ruang khusus sebagai ruang pamer, melainkan dipajang di ruang yang tiap orang di hotel itu bisa lalu-lalang, baik di luar ruang maupun di dalam ruang. Selain karya Apri Susanto (The Flow of Life) yang dipajang lantai dasar di dinding kolam renang, karya Ludira Yudha (Unknown Organic Object No. 3) di dinding yang diapit pintu masuk ke kolam renang dan ruang rest room.

Untuk menyaksikan karya Dedy Shofianto (Migration) pengunjung pameran harus naik ke lantai satu lewat anak tangga yang berada di tengah restoran hotel mungkin saat tamu hotel sedang santai menyantap makan dan minum, atau bisa juga memakai lift. Karya bercorak kinetik ini sejatinya bisa dilihat dari ruang restoran dengan menengadahkan kepala menikmati sensasi gerak obyek berbentuk sayap di dinding dengan sejumlah bentuk awan di dekatnya.

Untuk menikmati karya Ivan Bestari (It Grows) pengunjung pameran mesti naik lagi ke lantai dua yang diletakkan di pojok ruang. Ivan memamerkan kemampuannya mengolah materi limbah kaca. Adapun karya Dery Pratama (778540 LK) dipajang di depan hotel sehingga pengunjung yang sudah terlanjur berada di dalam harus keluar hotel.

Galeri:

Tekan/ sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Ketika pembukaan pameran ini dihadiri orang nomor satu di Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, karya luar ruang ini menjadi menarik. Dery Pratama membuat susunan bentuk dasar bantal yang mengikuti struktur bentuk bangunan hotel. Karya ini sebagai respon terhadap apa yang dia sebut sebagai konstruksi gigantik bangunan yang tanpa kontrol dan barbarik di Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta sudah mengeluarkan ratusan izin pendirian bangunan hotel baru.

Semua karya seni rupa ini masih sejalan dengan konsep karya  yang diusung Galeri Benda ketika Setya Brahmantya dan koleganya, Sudjut Dartanto, mendirikan Galeri Benda pada 1999. “Benda tetap melihat pentingnya sisi craftsmanship (keprigelan) dan pemahaman material tanpa terjebak pada dikotomi antara seni patung dan seni kriya,” ujar Satya Brahmantya lewat percakapan WhatsApp, Minggu 26 November 2017.

Menurut Bram, panggilan akrabnya, kehadiran kembali Galeri Benda setelah dia melihat muncul kecenderungan karya seni rupa lima tahun belakangan yang kuat di sisi teknik dan eksplorasi material. “Kita merasa ikut bertanggungjawab terhadap konsep yang kita kembangkan dulu,” kata dia.

Galeri:

Tekan/ sentuh foto untuk ukuran lebih besar

Toh ada yang baru pada kemunculan kembali Galeri Benda setelah menutup ruang galerinya pada awal 2005. Ketika ruang pamer karya seni rupa bermunculan di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Bram malah memindahkan kegiatan pamerannya ke hotel. Dia memutuskan tak lagi mengelola tempat pameran, melainkan fokus mengelola materi pameran seni rupa lewat kerja sama dengan pihak kedua: hotel. “Masalah intinya karena kita gak punya duit untuk mengelola venue,” ujar Bram. Dia  mengakui, pilihan bekerjasama dengan hotel karena tak mau repot dengan penyelenggaraan tempat pameran. “Kita tidak mau sibuk memikirkan tempat.”

Proyek pameran ini merupakan kerjasama antara Benda Art Managament dengan Hotel Gaia Cosmo dan perupa. Menurut Bram, hubungan kerja sama itu bukan karena Hotel Gaia membutuhkan materi interior, atau seniman yang membutuhkan tempat pameran. Melainkan agar tiap pihak bisa fokus pada perannya. “Gaia Cosmo Hotel memberi kebebasan sepenuhnya kepada Benda dan seniman pilihan Benda untuk berkarya,” katanya.

Dia menjelaskan, konsep pameran pada awalnya dia diskusikan degan hotel, dan kemudian dengan seniman. Disepakati juga penggunaan konsep commission works: pihak hotel membiayai pembuatan karya. “Benda menjadi jembatan antara seniman dan Gaia,” kata Bram.

Masa waktu pemajangan karyapun di luar kebiasaan, yakni selama dua tahun. “Karya tetap dijual,” ujarnya. Kalau laku, pembagian keuntungan: 50 persen seniman, 25 persen Hotel Gaia (pengembalian biaya produksi karya), dan 25 persen Benda. “Kerjasama ini harus saling menguntungkan.”

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *