WAYANG LOS STANG : Bayang Wayang Samuel Indratma

Foto: Dok. Samuel Indratma

 

WAYANG LOS STANG | Samuel Indratma | 3-25 November 2017 | Sangkring Art Project | Nitiprayan, Bantul | YOGYAKARTA

Penonton dibebaskan menuliskan narasi dari bentuk-bentuk figur imajinatif wayang.

SAMUEL INDRATMA untuk kesekian kalinya membuat heboh jagat seni rupa kontemporer Yogyakarta khususnya. Perupa kelahiran Gombong, Jawa Tengah 47 tahun lalu ini tak cuma memainkan teks lewat judul pamerannya: Wayang Los Stang. Dia juga menyarankan pengunjung menikmati karyanya hanya pada malam hari, sebagaimana halnya pertunjukan wayang kulit. “Ada baiknya nontonnya pada malam hari. Pakailah senter,” ujarnya lewat percakapan WhatsApp, 16 November 2017.

Pasalnya, jika nekat datang pada siang hari ke ruang Sangkring Art Project, pengunjung hanya akan melihat dua puluh sepeda ontel tua yang sudah diwarnai dengan karat di sana sini, dan dua becak yang juga seusia dengan sepeda itu, bak suasana pasar sepeda ontel lawas. Yang membedakan, sepeda-sepeda itu berhiaskan 60-an bentuk wayang tertancap di stang, sadel, dan boncengan.

Galeri:

Tekan/ klik foto untuk ukuran lebih besar

Frasa los stang berati mengemudikan kenderaan roda dua (sepeda, sepeda motor) tanpa memegang setang bak pemain akrobat. Bagi Samuel, pengertian wayang los stang merupakan sesuatu yang berlapis, bisa kemampuan yang sudah khatam, piawai, tapi bisa juga menyiratkan elemen akrobatik yang sewaktu-waktu dihadang resiko. “Wayang yang gak ndak pake disetir, langsung genjot, bablas njuk bisa bisa aksi-aksian,” tulis Samuel dalam komentarnya di Face Book, 5 November 2017.

Sejatinya, penonton sudah biasa menikmati pertunjukan wayang kulit dari arah punggung sang dalang. Bukan semestinya dari balik layar (geber) yang hanya menampilkan siluet wayang dengan sensasi citraan hitam putih. Pada pameran Samuel, ketika pengunjung pameran datang pada siang hari tak hanya menikmati visualisasi wayang versi Samuel dengan berbagai bentuknya, tapi juga bisa menikmati warna yang menempel pada wayang.

Galeri:

Tekan/ klik foto untuk ukuran lebih besar

Samuel yang juga dikenal lewat kelompok seni jalanan Apotik Komik, pada pameran ini membuat wayang dari materi kulit sapi dan kulit sintetis berupa bentuk imajinatif figur manusia yang kadang dikombinasikan dengan bentuk hewan (ikan, kuda), figur yang berekor atau bersayap, dan bentuk ikan, dalam posisi berdiri maupun melayang. Semuanya diberi bentuk ragam hias dengan selera artistik khas Samuel, dan masih diimbuni sapuan warna dengan cat akrilik dan cat semprot yang hasilnya mirip lembaran kain batik.

Semua warna itu lenyap ketika penonton melihat bayangan bentuk di dinding (mengambil alih fungsi geber) pada malam hari di bawah sorotan cahaya senter. Sisanya hanya bayangan gelap berbagai bentuk dari sorotan cahaya yang juga menerobos lubang hasil tatahan berbentuk berbagai citraan ragam hias. Penonton sejatinya bisa menikmati sensasi bentuk tiap wayang tanpa terbebani dengan muatan narasi, kalaupun ada.

Galeri:

Tekan/ klik foto untuk ukuran lebih besar

Menurut Samuel, semua bentuk figur maupun hewan itu berdiri sendiri—otonom—tidak punya hubungan narasi dengan bentuk wayang yang lain. Samuel tak menegaskan apakah bentuk wayang-wayang itu mengandung narasi. Bagi dia, narasi akan muncul ketika penonton mulai bekerja mengolah imajinasinya secara aktif. Artinya, penontonlah yang harus aktif menciptakan narasi berdasarkan berbagai bentuk figur yang sudah disediakan Samuel.  “Saya bebaskan figure-figurnya beroperasi dengan penonton,” kata ayah dua anak ini.

Coba bayangkan, jika seorang penonton yang terbiasa mengkonsumsi narasi dalam karya seni rupa bercorak representasional, dia masuk ke dalam ruang pamer yang gelap gulita pada malam hari. Dia pun patuh dengan nasihat Samuel, dengan mencoba menyorot satu bentuk wayang dengan cahaya yang ada pada perangkat telpon selulernya. Kemudian pindah ke wayang lain sembari mengembangkan narasi yang mungkin muncul diantara bentuk bentuk wayang itu. Begitu seterusnya hingga menghasilkan narasi yang dia inginkan.

Jika upaya penonton itu gagal, entah karena telpon seluler miliknya low bat atau bahkan padam sama sekali, dia pun pulang membawa sejumlah bayangan yang masih tersisa di dalam memorinya. Karena masih penasaran, di rumahpun ketika terlelap, memorinya masih bekerja  mencoba kembali membangun narasi di antara wayang wayang los stang itu dalam mimpinya.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *