Visualisasi Bunyi Julian Abraham Togar

Julian Abraham Togar | Foto-foto: RFX

 

SEBELUM GENDANG | Julian Abraham Togar | 28 Oktober – 18 November 2017 | Kedai Kebun Forum Jalan Tirtodipuran Nomor 3 | YOGYAKARTA.

Bahasa visual jadi salah satu elemen untuk me-rupakan kejasmanian bunyi.

BAGAIMANA jika seniman memadukan bahasa rupa dengan bunyi? Inilah yang terjadi: Suara seperti air sedang mendidih terdengar dari kotak kayu berbentuk kubus berkaki empat yang di bagian atasnya tertutup kain kanvas dengan cahaya muncul dari bawah.

Bunyi itu menimbulkan efek geraran yang memunculkan  gerakan bentuk mirip buih air dalam warna merah yang membentuk lingkaran. Buih itu bergerak secara geometris di bagian tepi bentuk lingkaran itu sepanjang bunyi air mendidih berlangsung.

Hanya sekitar tiga meter dari kotak kayu berkaki itu, menempel kotak kayu yang ditutup benda tranparan dipulas warna kuning berhiaskan tulisan dalam huruf kapital bewarna merah: EARS HAVE NO SELF DEFENSE MECHANISM.

Galeri:

Tekan/ klik foto untuk ukuran lebih besar

Ketika orang mendekat ke benda itu, terdengar suara dengan frekuensi rendah: kling… kling… kling. Suara itu diikuti pendar cahaya melintas di sepanjang tulisan itu yang mengingatkan orang pada bentuk media reklame luar ruang, neon box. “Kotak neon itu terstimulasi dan mengeluarkan cahaya begitu ada bunyi terdeteksi,” ujar Agung Kurniawan, Direktur Artistik KKF dalam penjelasan tertulisnya.

Dua benda persegi itu karya Julian Abraham Togar yang dipajang di Kedai Kebun Forum pada pameran bertajuk Sebelum Gendang-Before The Drum. Pria kelahiran Medan 30 tahun lalu yang kini punya nama Muhammad Hidayat ini memamerkan empat karya yang mengeksplorasi bunyi dan rupa, dan satu rekaman video yang menunjukkan dia memukul berbagai benda bak penabuh perkusi.

Togar, panggilan akrabnya, memang aktif sebagai penabuh drum dalam sejumlah grup band. Meski punya latar belakang pendidikan penyiaran film dan teknik elektro, tapi Togar lebih intensif bergaul dalam dunia musik. Kemudian dua dunia seni rupa dan musik saling bersinggungan dalam karirnya. “Saya banyak mencoba membuat visualisasi frekuensi bunyi,” ujarnya lewat percakapan WhatsApp, Senin 13 November 2017.

Dia menyebut perhatiannya itu sebagai kejasmanian bunyi. “Visual jadi salah satu elemen untuk me-rupakan kejasmanian bunyi,” kata Togar. Ketika dia bergabung dengan kelompok dengan pendekatan eksperimental terhadap elemen visual dengan berbagai media, HONF (House of Natural Fibre), membuka peluang bagi Togar mengeksplorasi musik elektronik dan eksperimen efek audio visual.

Galeri:

Tekan/ klik foto untuk ukuran lebih besar

Salah satu hasilnya terlihat dalam pameran ini. Pada karyanya bunyi dan visualisasi air mendidih tadi (50 Hertz, 2017) Togar meletakkan secawan air di atas pengeras suara dan seperangkat alat elektronik. Ketika arus listrik mengalir terdengar suara air mendidih yang menghasilkan bentuk visual dalam warna merah.

Pada karya bertajuk Acoustic Analog Digitally Composed #3 terdengar bunyi alat perkusi ditabuh dan di balik layar berbentuk persegi muncul jejeran bentuk siluet yang mirip lanskap perkotaan mini dengan gedung-gedung menjulang. Siluet itu sejatinya 16 rangkaian elektronik yang salah satu bagiannya naik turun saat bunyi terdengar bak jarum morse pada perangkat komunikasi telegraf pada masa lalu. Siluet rangkaian elektronik juga yang muncul pada bidang persegi lain dengan bunyi seperti jarum jam berdetak dan bunyi alat yang berputar.

Karya Togar ini sangat berbau eksperimental yang suatu saat akan menghasilkan satu karya yang utuh. Banyak hal yang masih bisa dieksplorasi yang bisa memperkaya elemen kebentukan dan bunyi yang akhirnya menghasilkan apa yang dia sebut sebagai kejasmanian bunyi. “Karya saya merupakan satu karya yang selesai, tapi sekaligus merupakan proses untuk karya berikutnya,” kata dia.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *