Abstrak Minimalis Sang Profesor Politik Internasional

Sticks & Boxes | 60 X 80 cm | Acrylic on Metal | 2014 | Foto-foto: Koleksi Tulus Warsito

 

FATAMORGANA | Tulus Warsito | 11-25 November 2017 | Albert Gallery Jalan Jalur Sutera No. 17 Serpong | KOTA TANGERANG

Tulus Warsito menyegarkan wajah seni rupa kontemporer dengan garis, titik, dan warna. 

EMPAT puluh tahun lalu Tulus Warsito adalah satu dari 13 seniman pemberang yang tergabung dalam barisan seniman PIPA (Seni Kepribadian Apa). Kelompok yang dianggap sebagai kelanjutan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) ini menggelar pameran hanya tiga hari, 1-3 Januari 1977, di Gedung Seni Sono Yogyakarta. Pameran ini merupakan gerakan seniman  muda mengkritisi keputusan juri dan akademisi seni dalam pameran seni rupa yang mereka nilai tertutup terhadap pembaruan dunia kesenian.

Kini pelukis bercorak abstrak ini adalah guru besar ilmu politik di satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, dan lebih dari itu dalam usia 64 tahun Tulus masih tetap melukis. Yang menarik, selain melukis di atas kanvas, Tulus juga melukis di atas materi metal. Pada pamerannya bertajuk Fatamorgana ini dia menyegarkan mata penikmat seni dengan garis, titik, dan warna, tanpa terbebani dengan berbagai narasi. “Saya ingin menghadirkan karya-karya saya sebagai permainan ilusi kenyataan,” ujar Tulus.

Dia menjelaskan, permainan ilusi kenyataan itu adalah satu permainan komposisi garis dan warna dalam bidang dua dimensional yang seolah menciptakan kedalaman atau kesan plastis bak citraan tiga dimensional. “Masing-masing karya tidak mewakili pencitraan apapun, kecuali menghadirkan dirinya sendiri,” katanya. Garis sebagai garis, titik sebagai titik, warna merah, biru ataupun hitam menampakkan sebagai dirinya sendiri, tidak mewakili figur apapun. Tulus menyebut gaya lukisannya abstrak minimalis.

Galeri:

Betulkah? Tidak semuanya karya Tulus sepenuhnya citraan abstak yang tak mewakili bentuk tertentu. Apalagi semua karya lukis Tulus diimbuhi judul sebagaimana karya bercorak representasional laiknya. Pada karya bertajuk The Deep Sea, misalnya, berupa komposisi arsiran garis dalam warna biru yang membentuk bidang persegi di sebagian besar permukaan kanvas, di bagian tengah ada bentuk ikan dalam warna hijau. Pada bagian bawah kanvas ada deretan garis bergelombang bak abstraksi gerak air.

Pada karya bertajuk Go Home berupa kanvas dengan warna kuning dengan garis berbentuk persegi di bagian atas dan tiga garis pendek bergelombang mirip abstraksi bentuk burung. Pada karya lain dengan warna biru dominan berbentuk geometris dengan garis-garis bak benang kusut di dalamnya hingga melebar ke sisi luar. Di atas warna biru itu ada dua jejer garis-garis pendek. Karya ini bertajuk Jakarta on Monday.

Galeri:

Tapi, bagi Tulus, judul tidak merupakan representasi sesuatu yang ada di atas kanvas lukisannya. Judul yang digunakan dapat muncul belakangan setelah karya selesai, atau dirancang sebelum proses pembuatan karya. “Judul sebagai penanda kognitif, sekadar untuk memberi nama karya sebagai objek,” katanya.

Menurut Tulus, bermain komposisi bentuk abstrak minimalis  membebaskan dirinya berkreasi tanpa batas. “Karena idiom abstrak-kongkrit adalah bahasa universal yang bisa dinikmati manusia di mana pun,” ujar Tulus. Penontonpun fokus pada karya lukisnya dengan komposisi warna-warna cerah yang menyenangkan mata.

Hasilnya, sebelum pameran dibuka pada Sabtu 11 November 2017 sudah lima karya yang lepas ke tangan kolektor dari 38 karya. Pemilik galeri mesang label harga dari Rp 5 juta untuk karya berukuran 40 x 40 sentimeter, hingga Rp 400 juta untuk karya berukuran 200 x 400 sentimeter.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *