JOGJATOPIA: Seni Patung Di Tengah Deru Lalulintas

Foto-Foto: RFX

 

JOGJATOPIA | Karya 50 Seniman Patung | Kurator: Greg Wuryanto | 10 Oktober 2017-10 Januari 2018 | Kawasan Kotabaru | YOGYAKARTA

Wisatawan akan dibawa menyusuri kawasan hijau Kotabaru untuk menikmati patung luar ruang.

LALULINTAS ramai di Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta, Kamis siang, 2 November 2017. Jalan ini merupakan urat nadi lalulintas dari arah kota Yogyakarta menuju kampus Universitas Gadjah Mada. Tapi mobil dan sepeda motor tetap nekat saling adu cepat. Hasilnya, terjadi kecelakaan kecil yang melibatkan mobil dan sepeda motor di depan Bentara Budaya Yogyakarta, persis sebelum pengkolan ke arah timur Jalan Serayu.

Eksiden itu terjadi tak jauh dari patung berbentuk keris meliuk-liuk karya Pramono Piunggul yang dipajang di jalur hijau yang memisahkan dua jalur jalan itu. Sekitar 10 meter di depan lokasi kecelakaan itu, ada patung karya seniman asal Thailand, Thannathon Suwannonthakul.

Mestinya situasi lalulintas itu bisa dimanfaatkan pengguna jalan raya di dua jalur jalan boulevard itu untuk sekilas menikmati jejeran patung karya peserta Jogja Street Sculupture Project (JSSP) mulai dari ujung utara Jalan Suroto karya pematung Ali Umar hingga ujung selatan jalan itu.

Tapi kebanyakan karya patung itu dalam ukuran yang tak mudah untuk dilihat pengguna jalan raya dalam situasi lalulintas, baik dalam kepadatan yang normal maupun yang tak normal. Pengguna jalan dengan sepeda motor maupun mobil hanya berani melihat sekilas, sebab lebih dari itu boleh jadi beresiko terjadi kecelakaan. Padahal, sebagian besar dari 50 karya patung luar ruang yang digelar Asosiasi Pematung Indonesia (API) ini berada di jalur padat di kawasan Kotabaru.

Galeri:

Dari arah utara Jalan Suroto ketika sampai di pengkolan Stadion Kridosono  orang bisa melihat sekilas sederet karya persis di bawah tembok luar stadion itu, yakni karya Wahyu Santoso berupa orang menungging dengan kepala mengarah ke dalam sumur. Karya ini sejatinya menarik dari segi gagasan maupun visual di tengah kawasan perkotaan yang penduduknya sudah jarang memakai sumur karena kering akibat tersedot sumur bor milik hotel yang menjamur. Tapi karya ini hanya dibuat seukuran normal,  sehingga sulit merebut perhatian pengguna jalan raya.

Di dekatnya karya Harry Susanto yang sudah menjadi ikon Stadion Kridosono, berupa patung tukang becak sedang menyaksikan pertandingan sepak bola dari luar stadion dengan bertengger di atas becak yang ditunggingkan. Karya ini lebih bisa terlihat karena berdiri di atas penyangga, meski warnanya yang abu-abu membuat karya ini tenggelam dalam warna putih dinding stadion.

Tapi di jalur ini pun pengemudi kenderaan biasanya tancap gas jika kepadatan lalulintas normal. Hanya ketika dalam kondisi lalulintas padat merayap saja pengguna jalan raya bisa melirik sebentar ke jejeran karya patung itu sembari berharap tak menabrak kenderaan di depannya.

Bahkan patung karya Ambar Pranasmara berupa figur yang digantung terbalik di pohon di jalur hijau sebelah selatan kantor Telkom, dan juga salah satu karya Sayhrizal Koto. Dua karya itu sulit menarik perhatian penggguna lalulintas karena terhalang rimbunan pohon di tengah keramaian lalulintas.

Galeri:

Sebaliknya di ruang terbuka di bagian timur stadion justru berdiri patung berukuran jumbo berbentuk tank dari susunan karung goni karya Indra Lesmana dan Andri Ariyanto. Di sebelahnya menjulang patung dari batu yang juga berukuran jumbo berbentuk huruf T karya Basrizal Albara.

Di jalur yang lebih longgar, seperti di Jalan Ngadikan berdiri dua patung yang segera menarik perhatian pengguna jalan raya karena bentuk, ukuran, dan warnanya, yakni patung karya Triyono dan Win Dwi Laksono. Patung karya Triyono berupa kuas berukuran gigantik bersender di bangunan lawas gardu listrik, dan karya Win Dwi Laksono berbentuk perisai bewarna merah dan putih.

Triyono dan Win beruntung, selain karyanya dalam ukuran besar dan warna mencolok, juga letaknya berhadapan dengan jalan dari arah Stadion Kridosono sehingga dengan mudah terlihat dari arah jalan Abubakar Ali. Di dekat kedua karya itu ada patung berbentuk mikrofon seperti tergeletak di aspal jalan karya Philips Sambalao.

Sejumlah karya patung nampaknya tak memperhitungkan situasi kawasan Kotabaru. Ketika pergerakan manusia di kawasan itu berlangsung dengan kecepatan tinggi, atau kepadatan lalulintas yang menyebabkan perhatian orang lebih fokus pada situasi lalulintas, tinimbang menikmati panorama di sepanjang jalan. Mestinya, karya patung yang dibutuhkan pada lingkungan seperti ini adalah karya dengan ukuran yang lebih dari biasanya dengan penampilan visual yang langsung menarik perhatian dari aspek bentuk dan warna.

Galeri:

Patung karya Edi Priyanto, misalnya, berupa citraan rumah bertingkat berbentuk jamur setinggi dua kali tubuh manusia dengan warna merah menyala. Karya berlatar bangunan Five Hotel ini lebih mudah menarik perhatian pengguna jalan di kawasan Mesjid Syuhada. “Menjamurnya hotel mengakibatkan bergesernya nilai peradaban dan budaya khususnya di Jogja,” ujar Edi saat pembukaan pameran JSSP 10 Oktober 2017.

Mungkin inilah yang sejatinya disebut utopia dalam konsep kuratorial pameran patung luar ruang ini terhadap lingkungan di kawasan Kotabaru.  Satu mimpi terhadap kawasan yang dulu merupakan permukiman dengan lingkungan sosial yang menyenangkan, tapi kini juga menjadi kawasan ekonomi dengan kompleksitas masalah lingkungan. “Satu konsepsi imajiner tentang komunitas dan tatanan sosial yang ideal namun sulit diwujudkan,” ujar Greg Wuryanto dalam seminar, 14 September 2017.

Toh selalu ada harapan. Penyelenggara pameran patung ini berharap, selain karya patung peserta bisa dilirik dengan rasa waswas penggguna jalan raya, juga bisa dinikmati wisatawan yang berkumpul di terminal bus wisata Abubakar Ali di dekat Malioboro. Rencananya wisatawan akan dibawa dengan fasilitas angkutan menyusuri jalan di kawasan Kotabaru yang berhiaskan karya patung luar ruang.

Tapi sejak dibuka pameran ini pada 10 Oktober 2017, fasilitas itu baru akan di sediakan pada akhir November 2017. “Masalah sumber daya manusia,” ujar Hedi Harianto, Ketua Panitia JSSP, Jumat 3 November 2017.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *