Gemilau Ragam Hias di Atas Tubuh Manekin

Doa | 2017 | Variable dimension | Mannequin | Car paint | Foto-foto: RFX

 

RUMONGSO RUMANGSANONO RUMANGSANI | Cahaya Novan | Tirana Art House & Kicthen | Jalan Suryodiningratan 55 | YOGYAKARTA

Cahaya Novan menggabungkan keillahian dengan yang profan.

HOW Art You? Seberapa nyeni sih sampean? Ungkapan populer ini kelihatannya pas untuk melihat upaya Cahaya Novan (lahir 21 November 1987), lewat pameran tunggalnya bertajuk Rumongso Rumangsanono Rumangsani (merasa, rasakanlah, merasakan). Perupa yang bermukim di Yogyakarta ini menggunakan medium dan idium budaya pop.

Sebanyak tujuh karyanya dengan menggunakan medium berbentuk mannequin (manekin) memperlihatkan bagaimana upaya dia menarik perhatian dengan menyentuh rasa seni publik. Diantara manekin itu ada yang tak utuh, seperti tubuh yang ringsek. Cahaya dikenal sebagai perupa yang lebih banyak menggarap karya tiga dimensi dari bahan ready made dan found object tinimbang dengan media kanvas.

Tapi kali ini dia menggabungkan bentuk ready made dengan teknik melukis. Di atas permukaan manekin Cahaya mencampurkan berbagai ragam hias yang diolah dari bentuk deformatif, berujung pada bentuk runcing dan dipulas dengan berbagai warna mencolok.

Galeri:

Bentuk-bentuk citraan itu mengingatkan orang pada gaya street art yang banyak menghias dinding-dinding kota. Satu ekspresi yang ringan, malah mungkin remeh-temeh, tapi di tangan Cahaya menjadi citraan yang berkilau baik secara harfiah maupun makna di atas permukaan manekin, benda yang biasanya untuk dipakai menawarkan kesenangan duniawi. Cahaya seperti menghadap-hadapkan dua hal kontradiktif.

Yang menarik, juga gemerlap citraan itu malah dilatari sesuatu yang bersifat hakiki. Orang boleh menyebutnya filosofis atau apalah yang menggambarkan pandangan menukik ke ruang yang lebih dalam. “Di mata Tuhan manusia itu manekin-manekin yang hidup,” katanya Senin siang, 23 Oktober 2017 di Tirana Art House. Sebagai orang Jawa, unsur kejawen masih tersisa dalam hidupnya. Dia mengaku malah acap mendapat inspirasi setelah menyepi.

Galeri:

Uniknya, Cahaya mengidolakan tokoh Togok (Batara Antaga), tokoh antagonis dalam kisah pewayangan, yang juga menginspirasi karyanya. Salah satunya bentuk huruf T menghias permukaan manekin. Dia pun menggunakan judul yang tak biasa dalam karya dan pameran seni rupa, ketika kebanyakan perupa lebih suka memberi judul pameran dan judul karyanya dalam bahasa Inggris.

Tahun depan Cahaya mengaku sudah menyiapkan sesuatu yang berbeda dengan karyanya sekarang. Dia selalu mengggunakan media dan teknik berbeda dengan karya sebelumnya. “Energi saya yang tersimpan akan keluar,” katanya. Satu pilihan yang menantang, tapi juga beresiko.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *