Seni Rupa Toying : Bebas + Terlantar

Foto-Foto: Dokumetasi Miracle Prints

 

DIARY SENI | Joko Toying Widodo | 6-25 Oktober 2017 | MIRACLE PRINTS Art Shop & Studio | Jalan Suryodiningratan 34, Mantrijeron | YOGYAKARTA

TOYING nama panggilannya. Usianya sudah tak lagi muda, 55 tahun. Tapi dia tetap menempuh jalan estetik yang jauh dari hiruk seni rupa kontemporer. Perupa dan aktivis seni Syahrizal Pahlevi menyebutnya: sang penjelajah sepi. 

Menurut Syahrizal, selain akrab dengan Toying sebagai kawan, dia memamerkan karya Toying justru karena dia sulit diajak berpameran. “Toying terus berkarya meski ada atau tidak ada pameran,” ujar Syahrizal yang juga dikenal sebagai aktivis seni grafis, Kamis malam, 19 Oktober 2017.

Perupa kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini memakai berbagai gaya dan media, mulai dari catatan pribadi di atas buku tulis murah yang diimbuhi goresan sketsa, karya lukis bergaya abstrak diimbuhi coretan sederet kata dengan latar warna suram, hingga karya tiga dimensi dari bahan bekas. ”Kok ada seniman yang selo dan disiplin membuat proyek buku harian,”  ujar Syahrizal.

Galeri:

Pameran tunggalnya kali ini pun berlangsung di galeri yang berukuran 3,5 x 3,5 meter persegi, berhadapan dengan susunan benda merchandise berbau seni rupa yang kebanyakan dibeli oleh turis asing berlabel harga dari Rp 5000 hingga Rp 500 ribu dan karya seni rupa mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 8 juta.

Sejumlah sahabat Toying membantu memajang karya di ruang sederhana itu. Perupa alumni STSRI-ASRI ini menulis: “Garis/tulis/gambar adalah elemen seni dimana aku bermain. Tak ada salah-benar, yang ada kebebasan berkreasi untuk menemukan makna. Tidak terikat konvensi, gaya atau aliran. Kebebasan ekspresi lebih diutamakan untuk menemukan kemungkinan dan makna baru. Bahan dan teknis tak ada yang baku, semua tergantung yang dibutuhkan saat itu. Bahan murni adalah persembahan dari keadaan yang terlantar, harus kita tempatkan pada semestinya”.

Berikut catatan Syahrizal Pahlevi, seniman grafis, pemilik MIRACLE PRINTS Art Shop & Studio, untuk pameran tunggal Joko Toying Widodo.

JOKO TOYING WIDODO tergolong seniman yang tak gampang berkompromi ihwal idealisme berkaryanya dan dia siap menerima segala resikonya. Bagi dia, melukis, membuat patung atau karya tiga dimensi dan mengerjakan artists book, adalah kegiatan khidmat bak laku spiritual yang harus bebas dari segala intervensi pihak luar yang dapat mengganggu kelurusan idenya.

Joko Toying termasuk sedikit seniman yang masih kuat bersikap ihwal  wilayah otonom seniman, satu wilayah yang seharusnya dipisahkan dengan berbagai kepentingan kurasi, publikasi, pasar dan semacamnya. Seni haruslah diciptakan hanya demi kepentingan untuk menemukan makna, titik.

Galeri:

Dalam pameran ini Joko Toying memamerkan 94 artist book yang merupakan buku hariannya, 20 lukisan akrilik di atas kertas, dua patung dan satu karya media campuran relasi antara lukisan di kanvas dengan objek dari bahan kayu, alumunium dan bahan elektronik.

Melalui karya yang berentang waktu 1993 – 2017 kita akan menemukan betapa seniman ini sangat mengutamakan kebebasan tanpa terikat gaya, aliran atau aturan tertentu sebagaimana dia uangkap dalam pernyataan seninya diatas. Tapi bukan berarti kita disodori beragam gaya yang tak jelas dan tak bisa dilihat kecenderungan tertentu.

Karyanya selalu berangkat dari pengalaman personal, kisah kecil, intim yang dilihatnya lewat kaca mata seni yang intelek. Hal ini sebagian terwakili dari penggunaan berbagai material yang hadir begitu melekat dengan dirinya dan menyimpan kisah tersendiri. Sisanya terwakili coretan, drawing, tulisan yang sarat simbol selaku manusia Jawa, seniman sekolahan dan bagian dari makhluk kosmopolitan.

Kita juga dapat merasakan sentuhan emosional menyiratkan ketegangan dan pergulatan batin yang terekam dari penjelajahan sepi sang seniman. Ini sekaligus memperlihatkan betapa dia suntuk dan menyatu dengan  berbagai material: kertas, kanvas, kayu, kawat, alumunium, charcoal, pena, pensil, cat, kolase. Sekilas dia nampak sebagai penjelajah media, tapi lebih dari sekedar itu. Media baginya satu konsekuensi mutlak dalam menyalurkan ide.

Bahan atau material berdialog tanpa lelah dengan gagasan dan tak pernah menjadi baku. Dia fleksibel mengikuti situasi kondisi yang melingkupi dirinya, tapi tak asal comot bahan tanpa perhitungan, lalu mencari pembenaran hanya karena tak kunjung mendapat material yang diidamkan.

Penghormatan seniman terhadap bahannya adalah perhitungan filosofis untuk menemukan esensi sebagaimana dia katakan: “Bahan dan teknis tak ada yang baku, semua tergantung dari yang dibutuhkan saat itu. Bahan murni adalah persembahan dari keadaan yang terlantar, harus kita tempatkan pada semestinya.”

Sang Penjelajah Sepi ini tak kenal putus asa. Hiruk-pikuk dan gegap- gempita dunia luar yang sering tak bisa dia ikuti tidak sampai menghentikan idenya yang mengental siap dimuntahkan. Dia seorang pengamat dari dekat karena berangkat dari hal personal yang diintiminya,  tapi dia juga bermain dari kejauhan dengan simbol dan kiasan. Toying acap luput ditanggapi karena dia tak kunjung dimengerti, tapi sosoknya  dirindukan temannya.

SYAHRIZAL PAHLEVI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *