Seni Rupa dan Desain: Saling Provokasi

Foto-foto: Zulfia Amrullah

 

MURNI? | Indonesian Contemporary Art and Desain 2017 | Kurator: Asmudjo Jono Irianto, Bambang Toko, Harry Purwanto | 4 Oktober-15 November 2017 | Grand Kemang, Jalan Kemang Raya 2H | JAKARTA SELATAN

Empat puluh satu perupa dan desainer memamerkan karya yang berpotensi menjadi karya seni dan desain.

ITU karya desain! Kalimat dengan tanda seru itu boleh jadi secara spotan terucap ketika seorang melihat empat citraan tiga dimensi dengan bentuk dasar bangku dari bahan kayu. Tiga diantaranya berhiaskan bentuk yang menarik berupa figur sedang duduk dan masing-masing diimbuhi lampu.  Sedang satu lagi tetap berujud bangku kayu dalam ukuran tinggi yang tak biasa.

Keberadaan lampu pada karya itu menjadi penanda bahwa tiga karya itu merupakan benda fungsional dengan sentuhan elemen estetik, tapi bukan karya seni patung. Intan mengolah bentuk fungsional bangku menjadi benda fungsional berupa alat penerangan yang bermuatan elemen estetik.

Berangkat dari masalah wilayah karya desain, dan karya seni rupa inilah kurasi pameran bertema MURNI? diterapkan dalam pameran Indonesian Contemporary Art and Desain (ICAD) 2017 ke-8 di Jakarta. Pameran ini diikuti 21 perupa dan 20 desainer. Karya mereka mulai dari bentuk kursi hingga disain karung tinju, mulai dari disain ruang dalam gerai warung buah hingga disain hiasan badan mobil mewah BMW.

Galeri:

Menurut kurator pameran, seni rupa modern (modernism) yang mengutamakan estetika kebentukan menolak merepresentasikan persoalan di luar seni. “Pada kenyataannya estetika bisa hadir dimanapun. Bahkan pada benda fungsional,” tulis tim kurasi dalam pengantar kuratorial pameran ini.

Tapi seni rupa kontemporer membuka sekat yang membatasi ranah seni rupa dengan desain. Keduanya saling mengintervensi dan memprovokasi. Seni rupa butuh bentuk fungsional sebagai subject matter, sebaliknya ranah desain butuh kehadiran elemen estetik dalam dirinya.

Pada karya Zulfian Amrullah, seorang sarjana arsitektur yang terjun ke dalam seni rupa, tampak melakukan penciptaan karya seni rupa. Bentuk kursi pada karyanya hanya sebatas bentuk estetik yang tidak fungsional. “Karya ini menceritakan bagaimana kehidupan kita selalu dipengaruhi hal-hal yang tidak kasat mata,” tulis Zulfian dalam konsep karyanya. Begitu juga karya Hendra Hehe Harsono berupa karya lukis bercorak street art dengan cat akrilik di atas kayu lapis.

Galeri:

Sebaliknya perupa Wedhar Riyadi membuat bentuk yang bisa menjadi inspirasi disain benda fungsional berupa sansak tinju yang digantung untuk latihan olah raga tinju. Di permukaan sansak berupa kanvas itu berhiaskan lukisan dengan cat minyak. Wedhar seperti sedang berperan sebagai desainer yang merancang desain sansak tinju tinimbang sebagai perupa.

Sama halnya dengan karya Denny R. Priyatna, seorang desainer, berupa  desain kursi yang tak biasa. Bentuknya berupa kursi yang dikesankan empuk tapi dengan sejumlah benjolan bak bisul di kulit manusia. Karya desain ini mengesankan kursi yang tak nyaman diduduki, tapi ketika diproduksi menjadi benda fungsional mestinya bentuk benjolan itu hanya citraan belaka, sehingga nyaman diduduki sebagaimana menduduki kursi biasa yang empuk.

Pameran ini menunjukkan kemampuan dua ranah berbeda yang saling memanfaatkan potensi dasarnya untuk memenuhi perkembangan  kebutuhan estetika visual.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *