Mengepak Sayap Estetik: Melawan Metastase Sel Kanker

Foto-foto: RFX

 

UNPREDICTABLE SCENES | Octo Cornelius Triandriatno | Kurator: Budi ND Dharmawan | 10-26 Oktober 2017 | Jogja Contemporary | Jalan Amri Yahya 1, Gampingan, Wirobrajan | YOGYAKARTA

Bentuk sayap yang ada dimana-mana menghasilkan bentuk imajinatif yang tak menguasai ruang pandang.

MERAH menyala warnanya. Dibangun dari rangkaian kawat menjadi bentuk sosok yang mengepakkan dua sayap. Bentuk bersayap itu mengimajinasikan sesuatu yang senantiasa bergerak, terbang, seolah tanpa halangan, terdapat pada tujuh dari 11 karya tiga dimensi dalam pameran bertajuk Unpredictable Scenes karya Octo Cornelius Triandriatno di Jogja Contemporary, Yogyakarta.

Octo, 36 tahun, memasukkan narasi tentang yang dia sebut random life sesuatu yang tak diperkirakan bakal terjadi dalam kehidupan seseorang, seperti halnya ketika istrinya divonis mengidap kanker stadium 3 hanya tiga pekan setelah pernikahan mereka. “Pameran Unpredictable Scenes menawarkan jeda kepada kita dari ikatan-ikatan keseharian dan mengajak kita sejenak menikmati acaknya hidup,” tulis Budi ND Dharmawan, dalam catatan kuratorialnya.

Maka, citraan sayap merah itupun hinggap di berbagai bentuk tiga dimensi, yang sebagian besar dalam posisi menggantung. “Bentuk sayap sebagai metafora sikap optimis, terbang lebih cepat. Tiap orang harus menghadapi sesuatu yang mengenakkan dan tak mengenakkan,” kata Octo lewat percakapan telpon, Minggu malam 15 Oktober 2017.

Galeri:

Yang menarik, kehadiran citraan yang seragam pada sebagian karya tiga dimensi itu tidak merampas perhatian pada citraan utama tiap karya. Bahkan dengan ukuran yang besar pun bentuk sayap dari jalinan kawat itu hanya menghasilkan bentuk  imajinatif yang tak menguasai ruang pandang.

Ada sayap merah yang menempel di citraan air bak menetes dari kran berbahan kayu, yang dimaksudnya hasil didambakan dari satu perjalanan (Seek and You’ll Find, 2017). Sebaliknya, di sebelah karya itu muncul deraan kekecewaan ketika sang sayap merah menempel di timba yang tidak berisi air melainkan hanya berisi citraan batu kerikil dari materi kayu (Tak Tepat Musim, 2017).

Narasi yang sama muncul pada karya lain dengan metafora sayap merah itu. Okto juga meramaikan narasi itu dengan bentuk-bentuk runcing seperti sesuatu yang siap menghujam yang segera menimbulkan rasa takut untuk melangkahkan kaki (Tak Paham Maka Ku Berani, 2017; Bukan Kapasitas, 2017).

Cintraan kaki pula yang diolah Okto pada tiga karyanya. Ada citraan sepatu bersayap berada di atas citraan cairan yang berpotensi menimbulkan situasi panik yang menghasilkan tubuh terjerembab (After Party, 2017; Serampangan, 2017).

Galeri:

Hingga di sini Okto berhasil mengefektifkan kesederhanaan bahasa ungkap medium tiga dimensi sehingga penonton lebih fokus menangkap narasi. Tapi komposisi metafora yang tunggal itu berubah menjadi hiruk dalam  gelayutan sepatu-sepatu bekas beralaskan kayu di dalam struktur ruang persegi. Karya ini sejatinya digarap dengan detil yang rapi.

Dari keriuhan komposisi itu Octo ingin menggambarkan upaya habis-habisan melepaskan diri dari cengkeraman ruang yang mematikan (Positive Response Facing Metastasis, 2017). Karya ini terinspirasi dari keberhasilan istrinya lepas dari gerogotan sel kanker.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *