Happy Balangsak #2: Seni, Sampah dan Situs Cigondewah

Nandanggawe + Komunitas Invalid Urban | Happy Balangsak #2 | 2017 | Foto-foto: Dok. Invalid Urban

 

HAPPY BALANGSAK #2 | Nandanggawe+Komunitas Invalid Urban | 11-17 Oktober 2017 | Imah Budaya Cigondewah Tisna Sanjaya | BANDUNG

Nandang Gumelar Wahyudi, 47 tahun, yang lebih dikenal dengan nama Nandanggawe, menggelar pameran bertajuk Happy Balangsaks #2 bersama Komunitas Invalid Urban di studio milik perupa Tisna Sanjaya, di Bandung. 

Pada beberapa kesempatan, Nandanggawe dan Komunitas Invalid Urban menjaga jarak, dalam ruang interior di dalam galeri dengan konstruksi simbol berupa instalasi maupun olah gerak tubuh, dan berbagai pertunjukan seni-panggung dan mengekspresikan sebagai pertanyaan yang mengungkap perayaan atas paradok, ironi pun ambivalensi dalam kehidupan keseharian. 

Tapi dalam kesempatan lain, komunitas Invalid Urban ini bergerak keluar ruang. Mereka turun ke jalan membuat gulungan instalasi sampah plastik— semacam seni performans sekaligus aktivisme—di jalan-jalan utama. Mereka memungut sampah plastik di beberapa ruas jalan di Bandung, yang kemudian dibentuk seperti bola raksasa plastik.

Intensi komunitas Invalid Urban adalah mengkritisi pengguna jalan dan publik agar jangan membuang sampah plastik sembarangan. Dalam kesempatan lain, mereka juga melakukan upaya aktivisme protes atau seni yang secara politis berhadapan langsung dengan kebijakan publik penguasa. Misalnya, dengan berjalan mundur dijalanan memprotes situs bersejarah di Bandung yang akan dialih fungsikan untuk lahan industri dan rekreasi semacam mall dan sejenisnya.

Berikut tulisan pengamat seni Bambang Asrini Widjanarko yang menulis pengantar pameran. Tulisan ini telah disunting untuk disesuaikan dengan format media online. Naskah lengkap bisa dilihat di: https://bambangasriniwidjanarko.wordpress.com/

KALI ini, Invalid Urban berupaya hadir di kawasan Cigondewah, satu area industri di kota Bandung dengan kompleksitas dan paradoksnya masih disukai untuk olah ekspresi. Cigondewah yang kita kenal sebagai sentra daur ulang plastik dan kain, industri tekstil serta pabrik hadir sebagai satu kenyataan area urban. Wilayah ini dekat dengan aliran sungai Cigondewah yang mengalir sampai Citarum yang saban hujan meluber dipastikan  banyak sampah berserakan.

Satu studio khusus didirikan di sana oleh perupa senior Tisna Sanjaya.  Invalid Urban berkesempatan memberi penanda lewat pameran khusus  dengan konsep site specific art. Tapi akan lebih menarik jika kita telaah Cigondewah dan Studio itu dengan identifikasi ruang yang disebut filsuf Michel Foucault sebagai heterotopia.

Foucault memakai ide ruang sebagai cermin, yang menjadi metafor tentang yang disukai kelompok Invalid Urban: dualitas dan kontradiksi. Metafor selalu disodorkan komunitas ini, merayakan dengan jalan mempertanyakan, mengajak dialog sampai pada titik meng-komedikan realitas fiksi atau pun realitas fisik.

Tampak komunitas ini ingin mendekati salah satu karakter ruang dari beberapa kriteria yang dianggap sebagai ruang Heterotopia dengan mantra-nya, yakni purifikasi ruang antara di satu wilayah.

Cigondewah diandaikan sebagai wilayah ambang yang disebut utopia, yakni secara mental masyarakat komunal menginginkan kota adalah tempat yang ideal, atau diimajinasikan sebagai paling tepat untuk hidup: sehat, nyaman dan berkecukupan. Kenyataan lain, Cigondewah juga satu wilayah urban yang menanggung beban distopia, yakni masa depan yang memburuk, persaingan kuasa dan perebutan modal spasial serta rusaknya lingkungan ekologi yang mungkin menjadi absolut pada masa mendatang.

Ruang Heterotopia sebagai upaya penyembuhan seringkali dipentaskan, dipanggungkan dan memprovokasi kebutuhan seniman mengekspresikan tatanan yang dianggap tak ideal. Juga sekaligus bukan skenario terburuk ketika manusia putus harapan melihat satu kehidupan di kota besar. Para cendikia seperti Edward Soja acap membangun konsep dialog spasial semacam ini yang disebut representation of the space.

Tisna Sanjaya dan anggota Komunitas Invalid Urban.

 

Satu pentas yang diimajinasikan Invalid Urban sebagai karya Happy Blangsak #2 nantinya akan mendekati ritual penyucian tempat di Cigondewah, sebagai Ruang ke-3; dengan mengkritik, mendialogkan serta mensyukuri kemungkinan yang utopia dan sekaligus yang dianggap distopia itu.

Nandanggawe kepada penulis, mengatakan karya Happy Balangsak #2 di Cigondewah memang tak langsung terhubung kesungai Citarum. “Sungai mungkin akan jadi salah satu yang akan direspon. Sedang karya utama akan dibuat indoor, di dalam ruang studio,” katanya.

Karya itu dikerjakan bersama tim kelompok ini dan merespon aktifitas  warga sekitar. Termasuk material yang digunakan berupa sampah di sekitar permukiman warga. Karya itu, memungkinkan akan meluber keluar ruang sampai ke jalan. “Yang paling menantang adalah memungkinkan terjadinya pergesekan dan temuan baru dengan warga sekitar dan mengadaptasinya, berbagi pemahaman nilai yang terikat ruang dan waktu.”

Nandanggawe menjelaskan, Cigondewah adalah hamparan ironi dalam iklim kota yang dianggap modern. Kawasan ini dulunya areal persawahan, dan dikenal religius, ada banyak pesantren di sana yang bertransformasi menjadi bangunan pabrik. Pemukimnya yang dulu petani kini jadi pedagang dan tukang, terutama usaha daur ulang sampah. Yang paling memprihatinkan: segala hal dilihat dalam ukuran pragmatisme.

Nandanggawe dan kawan-kawannya di Invalid Urban membangun imajinasi konstruksi bangunan semacam pabrik, besar atau kecil atau bisa jadi menyerupai monster yang terbuat dari materi dari barang bekas yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar.

Apa yang dikerjakan Invalid Urban memanggungkan “mesin mimpi” adalah  merefleksikan ruang Heterotopia secara fisikal sekaligus mental.  Hal itu memberi makna, ruang fisik yang dihadapi sebagai keseharian serta dalam waktu sama ruang harapan yang harus selalu terjaga.

BAMBANG ASRINI WIDJANARKO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *