Provokasi Ketika Pasar Seni Rupa Mati Suri

Wimo Ambala Bayang | Belanda Sudah Dekat | 2008 | 9 pieces, 60×60 cm each | Photography | Foto-foto: Istimewa

 

RESIPRO(VO)KASI | Karya: Angki Purbandono – Alfiah Rahdini – Cut and Rescue – Elia Nurvista – Fajar Abadi – Irwan Ahmett – Jatiwangi Art Factory – Moelyono – Vincent Rumahloine – Wimo Ambala Bayang | Kurator: Bayu Genia Krishbie | 5-19 Oktober 2017 | Gedung B – Galeri Nasional | JAKARTA

Praktek seni rupa alternatif bermunculan dengan narasi yang tak bersinggungan langsung dengan politik.

ANGKATAN ke-5 sebagai respon terhadap gerakan politik-militer bertajuk Ganyang Malaysia pada 1960, aromanya menyusup ke Gedung B, Galeri Nasional, Jakarta. Gagasan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu dimaksudkan untuk mempersenjatai petani dan buruh melawan klaim Malaysia terhadap Sabah dan Serawak saat itu.

Dengan mengusung jargon Belanda Sudah Dekat, ‘penyusupan’ itu menjadi  parodi terhadap wacana Angkatan ke-5, lewat Angkatan ke-6 dan Angkatan ke-7. Ada  tiga pria dengan otot tubuh menonjol, pegawai instansi pemerintah, kelompok punk, kelompok senam kebugaran, siswa berjilbab, bahkan waria. Semuanya berpose dengan senjata mainan plastik dalam berbagai warna.

Adalah Wimo Ambala Bayang, 41 tahun, yang berada di balik pengerahan komunitas di Yogyakarta berpose lucu-lucuan. Karyanya berupa seri foto  dipajang di Galeri Nasional pada pameran bertajuk Resipro(vo)kasi bersama enam perupa dan dua kelompok perupa. Sebelumnya karya itu  sudah dipamerkan pada 2008.

Karya Wimo dan perupa lain oleh kurator pameran ini, Bayu Genia Krishbie, dikatagorikan sebagai satu kecenderungan karya seni rupa kontemporer pasca 1998. Satu masa ketika berlangsung eforia politik setelah penguasa rezim Orde Baru Jendral Besar Soeharto terpaksa melepas jabatannya setelah 30 tahun berkuasa.

Galeri:

Saat itu, ketika pasar seni rupa bergelimang rupiah, sejumlah perupa  secara individual maupun kelompok malah mengambil jalan lain dengan melakukan praktik kesenian yang melibatkan kelompok masyarakat. “Pengaruhnya dalam dunia seni rupa dapat kita rasakan melalui munculnya beragam gejala praktik seni rupa alternatif, eksplorasi media baru, kerja kolektif, dan inisiatif mandiri untuk berkarya dan berekspresi diluar institusi seni rupa,” tulis Bayu Genia Krishbie dalam konsep kuratorialnya.

Praktek seni rupa alternatif bermunculan dengan narasi yang tak bersinggungan dengan politik. Perupa asal Bandung, Alfiah Rahdini, 27 tahun, mengumpulkan orang untuk dicukur rambutnya sebagai eksperimen pembuatan patung pada 2009. Hasilnya, karya instalasi dengan elemen suara dan tayangan video. Bahkan, Fajar Abadi, 32 tahun, memanfaatkan gestur senyum untuk memikat pembeli kue buatannya lewat proyek seni rupa performatif sejak 2011.

Perupa asal Tulungagung yang dikenal dengan praktek Seni Rupa Penyadaran, Moelyono, 60 tahun, melibatkan bocah difabel di Yogyakarta dalam proyek seni rupa pada 2014. Sedang Angki Purbandono melibatkan petugas di Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta dalam proyek fotografi Prison Art Programs pada 2013.

Seniman keramik, Vincent Rumahloine, 33 tahun, memakai kameranya memotret keluarga di depan rumah mereka yang terancam digusur di  bantar Kali Ciliwung, Jakarta Utara. Di Yogyakarta, perupa Elia Nurvista, 34 tahun, juga melibatkan komunitas ibu rumah tangga di bantaran Kali Gajah Wong, menggarap isu beras miskin.

Galeri:

Atau kelompok Jatiwangi Art Factory menayangkan video dokumentasi saat  memajang karya perupa kontemporer di rumah penduduk Desa Jatisura, Jawa Barat, pada September-Oktober 2013. Sedang kelompok perupa Jakarta Cut and Rescue menampilkan artefak kegiatan kesenian mereka sepanjang 2012-2016, antara lain lewat interaksi dengan publik.

Hanya Irwan Ahmett, 42 tahun, yang karyanya bersinggungan langsung dengan atmosfir politik yang kini memanas: isu kebangkaitan kembali PKI. Lewat karya instalasi dan video, dia menolak klaim sejarah pada film yang kembali diputar setelah 19 tahun digudangkan, Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI, besutan Arifin C. Noor. Hebatnya, perlawanan Irwan lewat penuturan seorang perias pemeran film itu.

Ketika seni rupa arus besar sedang kering kerontang dari gemerincing rupiah, pameran yang lebih merupakan dokumentasi seni rupa ini menjadi momen yang pas bagi perupa untuk melihat kembali perannya dalam masyarakat. “Diharapkan pameran ini mampu memberi perspektif berbeda  sebagai alternatif pengalaman artistik bagi perupa dan pengalaman estetik bagi publik,” ujar Bayu Genia Krishbie.

RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *